Laila Istiana Rajin Kunjungi dan Diskusi dengan Pemilihnya

Bangun Karakter Karanganyar Berpendidikan Bersama Laila Istiana
November 14, 2018
pendidikan di kota dan desa
Melihat Kualitas Pendidikan Antara Desa dan Kota
November 22, 2018

pendidikan di wonogiri

Para guru swasta di wilayah Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen, yang merupakan daerah pemilihan Laila Istiana DS, mengeluhkan masih kurang sejahteranya nasib mereka. Hal tersebut terungkap pada acara Silaturahim Akbar dan Jalan Sehat Warga Aisyiah dan Muhammadiyah Kabupaten Karanganyar, pada reses I masa sidang 2014–2015, akhir 2015 lalu.

kunjungan laila istiana ke dapil

Foto pexels

Dalam masa reses yang berlangsung pada 20-28 Desember 2015, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional itu menyerap berbagai aspirasi dan mendapat masukan mengenai masalah-masalah pendidikan, termasuk peningkatan kesejahteraan guru, inpassing, dan sertifikasi guru.

Peserta silaturahim dan dengar pendapat, yang sebagian besar merupakan guru, dalam kesempatan tersebut, banyak menyuarakan tentang diskriminasi perhatian pemerintah pada guru dan tenaga kependidikan sekolah berbasis agama, kebijakan Ujian Nasional, serta masalah kesejahteraan guru swasta.

Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, para guru PAUD juga berkesempatan menyampaikan keluhan mengenai rendahnya kesejahteraan dan honor guru PAUD. PAUD, mereka katakan, belum mendapat perhatian dari pemerintah, padahal PAUD merupakan pendidikan dini yang sangat penting untuk mencetak kader bangsa yang bermutu tinggi.

Kekurangan Guru
Dari kunjungan ke wilayah konstituennya, kemenakan politisi kawakan, Amien Rais, itu mendapat informasi mengenai sangat kurangnya ketersediaan guru di banyak tempat. Di sisi lain, banyak guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun namun belum juga diangkat menjadi guru tetap.

“Bagaimana mungkin seseorang yang mengabdi pada pencerdasan kehidupan bangsa bisa maksimal mengajar kalau pendapatannya saja jauh dari mencukupi?” kata pemilik nama lengkap Hj. Laila Istiana Diana Savitri, SE itu.

Karena itu, ia mengusulkan pemberian tunjangan sosial seperti BPJS, KIS, dan KIP untuk anak-anak mereka. Selain itu, pemerintah perlu memberikan bantuan modal usaha agar para guru honorer tersebut bisa mendapat penghasilan lain di luar kegiatan mengajarnya.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Nana itu menyayangkan penghentian pengangkatan guru honorer melalui program inpassing di tengah masih banyaknya guru yang mengajukan penyetaraan melalui program tersebut.

Dia juga mendapati seringnya terjadi keterlambatan pembayaran tunjangan profesi guru, bahkan hingga berbulan-bulan. Adanya sistem baru, yakni Data Pokok Pendidikan (Dapodik), justru mempersulit guru memperoleh tunjangan profesi karena rancunya data.

Disambut Baik
Warga Sidoharjo, Kabupaten Sragen, menyatakan merasa bangga dan senang karena anggota DPR RI mau melakukan silaturahim ke desa-desa meskipun bukan menjelang pemilu. Mereka pun sangat antusias mengikuti acara dan mendengar jawaban wakil mereka di parlemen, terutama terkait kebijakan pemerintahan baru.

Perempuan yang pernah mengenyam pendidikan S2 Bahasa Cina di Jinan University, RRC, pada 2008 itu memang amat menaruh perhatian pada pendidikan, khususnya pendidikan dasar di daerah pemilihannya.

Dalam pelatihan mendongeng yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasemen bekerja sama dengan Ikatan Guru Bustanul Athfal ‘Aisyiyah (IGABA) Kabupaten Karanganyar, pada 2017 lalu, Mbak Nana tampak memenuhi undangan panitia. Ia mengharapkan pelatihan mendongeng itu bisa meningkatkan kreativitas guru dalam menarik minat siswa dalam belajar.

Ia mengatakan kegiatan pelatihan mendongeng ini merupakan langkah awal mempersiapkan guru-guru potensial yang akan mengikuti ajang perlombaan antarguru TK di tingkat kabupaten, wilayah, dan nasional. Mbak Nana berpesan agar guru Aisyiah terus berinovasi dalam menghadapi perkembangan pendidikan sehingga PAUD Aisyiah tetap menjadi pilihan utama masyarakat Karanganyar.

Anggota DPR RI Komisi X itu juga tampak menghadiri Talkshow Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di pendopo Kabupaten Wonogiri, Juli lalu. Dalam kesempatan itu, ia mengatakan pemerintah perlu menganggarkan lebih banyak dana untuk pengembangan perpustakaan. Di Kabupaten Wonogiri, katanya, akan disediakan bantuan pemerintah berupa mobil perpustakaan keliling.

Ia menyayangkan masih rendahnya budaya membeli dan membaca buku di Indonesia saat ini. Masyarakat malah lebih memilih menggunakan gadget-nya untuk mengakses media sosial. Mbak Nana mengambil contoh sebuah perpustakaan di Salatiga yang dilengkapi dengan taman sehingga pengunjung menjadi betah berlama-lama di perpustakaan.

(Visited 48 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *